Trending

Patroli Diperketat, Begal Tetap Mengganas: Ironi Keamanan Pekanbaru di Tengah Operasi Tim Raga Polda Riau

 

gambar ilustrasi Begal

Pekanbaru- bumimelayumedia.com -, Situasi keamanan di Kota Pekanbaru kembali menjadi sorotan tajam publik. Ironi mencolok tersaji di penghujung Januari hingga awal Februari 2026, ketika aparat kepolisian tengah menggencarkan patroli gabungan berskala besar, namun pada saat yang sama aksi kriminal jalanan justru terjadi dengan tingkat kekerasan yang mengerikan.

Di tengah operasi preventif yang dikenal sebagai Tim Raga Polda Riau, sebuah aksi pembegalan brutal dilaporkan terjadi di Jalan Kartama, tepatnya di sekitar Simpang Handayani, pada Minggu (1/2/2026) dini hari. Peristiwa tersebut menimbulkan kegelisahan mendalam di tengah masyarakat, sekaligus mempertanyakan efektivitas pola pengamanan yang selama ini digaungkan aparat.

Padahal, hanya beberapa jam sebelumnya, jajaran Polda Riau baru saja menggelar apel kesiapan pasukan di Markas Komando Polda Riau. Apel tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Pol M. Hasyim Risahondua, sebagai bentuk keseriusan institusi kepolisian dalam mengantisipasi meningkatnya kejahatan jalanan, khususnya tindak pidana C3 (curat, curas, dan curanmor) serta aktivitas geng motor yang meresahkan.

Dalam operasi tersebut, personel gabungan dari Ditreskrimum, Ditsamapta, Satbrimob Polda Riau, hingga Polresta Pekanbaru dikerahkan secara masif. Patroli dilakukan dengan menyisir sejumlah ruas jalan utama dan titik-titik rawan kriminalitas, mulai dari Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Ahmad Yani, hingga kawasan Rumbai dan sekitarnya.

“Kegiatan ini merupakan langkah preventif guna menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif, khususnya pada malam hari,” ujar Kombes Pol Hasyim Risahondua saat memberikan keterangan kepada awak media, Minggu (1/2/2026).

Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Sekitar pukul 02.12 WIB, ketika sebagian warga tengah terlelap dan patroli kepolisian masih berlangsung di sejumlah titik kota, aksi pembegalan sadis justru meledak dan menebar teror.

Berdasarkan informasi yang beredar luas di media sosial, khususnya dari unggahan akun Instagram @viralpekanbaru, dua orang remaja dilaporkan menjadi korban kebrutalan sekelompok pelaku yang diduga berjumlah sekitar 11 orang. Para pelaku menghadang korban yang sedang dalam perjalanan pulang dan langsung melakukan tindakan kekerasan tanpa ampun.

Saksi menyebutkan, para pelaku membawa senjata tajam jenis samurai serta stik bisbol. Tidak hanya merampas barang berharga milik korban seperti uang dan helm, para pelaku juga melakukan penganiayaan berat. Kedua korban dilaporkan dipukuli dan dibacok di lokasi awal kejadian sebelum akhirnya dibawa paksa hingga ke kawasan Palas.

Sepanjang perjalanan tersebut, korban terus mengalami kekerasan fisik. Aksi itu tidak hanya meninggalkan luka serius, tetapi juga trauma psikologis mendalam bagi para korban dan keluarganya. Kejadian ini sontak memicu kemarahan dan ketakutan warga, yang merasa keamanan kota semakin rapuh meski aparat mengklaim telah melakukan penjagaan ketat.

Unggahan saksi di media sosial pun dengan cepat menyebar dan memantik reaksi publik. Banyak warga mempertanyakan bagaimana aksi sebrutal itu bisa terjadi di tengah jadwal patroli intensif yang digelar secara terbuka oleh kepolisian. Kritik pun mengarah pada pola patroli yang dinilai belum mampu menjangkau titik-titik rawan secara efektif.

“Patroli kelihatan ramai di jalan besar, tapi kejadian malah terjadi di jalan penghubung dan kawasan permukiman,” tulis salah satu warganet dalam kolom komentar unggahan tersebut.

Situasi ini membuat masyarakat mendesak aparat kepolisian untuk tidak hanya mengandalkan patroli simbolik, tetapi juga memperkuat deteksi dini, respons cepat, dan pengungkapan kasus secara transparan agar kepercayaan publik tidak terus terkikis.

Menanggapi insiden yang mencoreng upaya preventif tersebut, Kombes Pol M. Hasyim Risahondua menegaskan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti informasi yang beredar. Ia memastikan dugaan aksi begal itu akan diselidiki secara serius.

“Oke, kita selidiki dan gas kalau memang ada,” tegas mantan Kabid TIK Polda Riau tersebut singkat namun lugas, Minggu (1/2/2026).

Kini, publik menanti langkah konkret aparat kepolisian, tidak hanya dalam bentuk patroli rutin, tetapi juga penangkapan pelaku dan pengungkapan jaringan kejahatan jalanan yang dinilai semakin berani dan brutal. Bagi warga Pekanbaru, keamanan bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendasar yang harus benar-benar dirasakan di setiap sudut kota, terutama pada malam hingga dini hari.

Lebih baru Lebih lama